Senin, 13 Juni 2011

CERPEN MBOH ORA IKI.......!!!!


                                             AKU DENGAR BISIK KUNANG-KUNANG

            Masih aku mengingat kata-kata riuhmu, kita bermain diantara riak dedaunan. Hijau daun teh yang membentang teramat jauh, menggantikan kecantikan lipstikmu yang mulai memudar. Aku melihat gerai rambutmu yang begitu menawan sukmaku, dan menghempaskannya pada tepi tak berdayaan. Terik matahari siang itu, tak dapat menembus awan yang sedang bercumbu rayu. Suasana itu begitu teduh, tapi aku melihat dingin menitipkan galau di antara debu yang menempel di dedaunan. Derai awan mulai kurasa, di bawahnya uap-uap air dan dijadikannya awan yang menghitam. Tak dapat dielakkan lagi, satu demi satu gerimis berjatuhan. Hujan telah turun dan membasahi semua yang ada.
            Hujan siang itu memaksa kita melepas seragam abu-abu, yang selama ini kita pakai untuk menapaki bangku SMU. Semenjak kejadian itu, aku tak lagi melihatmu. Kita telah terhantar pada pintu rumah, dan tak mungkin kembali pada masa itu.
            Peristiwa itu benar-benar membekas di hatiku, bahkan setelah selesai aku menjadi mahasiswa, aku masih mengingatmu. Aku masih ingat janji-janji itu. Kita pernah berjanji untuk meneruskan kuliah di PTN Surabaya atau Jogja. Maafkan aku Lia, hal itu tak dapat kupenuhi, keluargaku tak sekuat dengan keluargamu. Aku pun sadar, kau tak pernah menganggap cintaku, dan biarlah kata-kata yang kau abaikan itu menjadi kenangan cintaku.
            Tak pernah ku mengerti, mengapa hati ini selalu berdetak kencang saat mengingatmu. Setiap langkah-langkah kakiku, aku selalu mengingatmu dengan penuh. Sebenarnya aku masih menunggu kata-kata darimu, tapi tak ada satu ucap kata dari bibirmu. Sebenarnya aku telah menulis surat untukmu, tak hany satu kali aku menulisnya, bahkan telah berpuluh-puluh kali tetapi tak ada balasan darimu. Apakah surat itu tak sampai padau, kaulah tak tak sampai surat itu, tidak adakah bisik kunang-kunang di kupingmu, sebab ia telah mengutip pikiran-pikiran dari mimpiku.
            Sunyi atau rindu selalu menghampiri mimpi-mimpiku. Canda dan tawa telah terhapus waktu, bahkan senja yang membentang di kaki perbukitan tak mampu menghapus laraku. Aku hanya bisa terdiam diantara lalu-lalang orang.
            Bulan demi bulan, tahun-tahun telah menua dan mati terbakar di tong sampah depan rumahku. Aku mencoba menghapus sisa bayangmu yang menempel di tiap langkahku. “Yulia maafkan aku, bukannyaa aku melupakanmu, tapi aku akan mencari sosok yang menyerupaimu.”
            Debu-debu yang beterbangan oleh hempasan angin kendaraan, menandakan telah tiba musim kemarau. Panas yang begitu menyengat, membuat dahiku terbasahi keringat. Aku melihat sosok itu, saat ku buang tisu yang basah oleh keringatku. Ia begitu sempurna menyerupai Yulia, bahkan kulihat gelagatnya juga sama. Sebenarnya siapakah ia?
            Aku tak tahu mengapa kasih dan sayangku tiba-tiba tertuju pada gadis itu. ia tiba-tiba lenyap dari pandanganku, entah ia pergi ke mana? Aku berpikir itu hanyalah pengobat rinduku akan Yulia.
            Malam demi malam aku selalu bertanya. Siapakah wanita yang berjalan di gang menuju klinik itu. Apakah ia hujan yang akan menyirami hatiku, sebab telah lama aku mencumbu kemarau, tapi musim begitu kering, akankah ia hujan kiriman.
            Aku berjalan di trotoar jalan, kulihat banyak orang menjajakan jualannya. Kulihat nyala lilin yang begitu syahdu, menari-nari diantara dingin angin malam. Juga tak ketinggalan tukang becak, pengamen, pengemis, dan gelandangan yang membuat muram suasana hatiku. Tiba-tiba Hp yang ada di saku celanaku bergetar. Kulihat ada sebuah kotak masuk dari salah seorang sahabat, berita itu begitu mengejutkan. Sahabat terbaikku yang bernama Anton katanya kecelakaan, dan ia dirawat di klinik ujung gang itu. akupun segera ke tempat itu, tempat di mana gadis itu bekerja.
            Ternyata gadis itu bekerja sebagai perawat di kinik itu. Malam itu, sambil menunggui sahabatku. Aku juga dapat berkenalan dengannya. Meski belum lama berkenalan, tapi kami begitu akrab dalam obrolan. Aku mengetahui nama gadis itu, namanya Lucky.
            Lama-kelamaan hubungan pertemanan kita semakin akrab. Sebenarnya aku ragu pada gadis itu, tetapi kata-kataku terlanjur meledak di kupingnya. Sepintas ia langsung merespin kata-kaku, aku benar-benar bahagia, dan tak lama kubayangkan begitu indahnya.
            Malam berjalan dengan sendirinya tanpa terasa, kegelisahan-kegelisahan juga selalu berjalan tanpa mengenal akhir. Setiap hilang pasti akan muncul kembali. Itulah yang kurasa di lubuk hatiku yang paling dalam. Setiap aku melupakan suatu hal, sepintas akan hilang, tapi suatu saat akan muncul kembali.
            Rintik-rintik hujan senja itu, membasahi rambutnya yang lurus. Sepertinya aku mengenal gadis itu. Dengan asyiknya ia mengisi bensin mobilnya. Ia tiba-tiba menatapku, karena aku juga melihatnya dengan aneh. Aku tahu bahwa gadis itu adalah Yulia. Ia tak dapat mengenaliku sebab helm dan masker menutupi wajahku. Aku tak tahu mengapa ia muncul kembali di dalam hatiku. Hal itu benar-benar membuatku bingung.
            Dingin subuh begitu mencekap semua indaku, ku tarik selimut dan kututup rapat-rapat. Sampai-sampai aku lupa bahwa pagi ini aku harus mengantar Lucky bekerja. Sungguh tak kubayang, kalau aku nanti telah sampai di rumahnya. Pasti ia akan ngomel kesana-kemari, dan pastinya tak habis-habis.
            Sesampainya di klinik aku melihat mobil berwarna merah yang kujumpai di Pom kemarin. Mengapa Yulia juga berada di tempat itu. Jiwaku begitu tersiksa, karena aku harus menghadapi hal-hal yang tak terduga.
            Jam berdering tepat pukul 05.00 sore, tiba-tiba Lucky datang, mukanya cemberut, sepertinya ia kesal akan sesuatu hal. Aku tak buru-buru bertanya, tapi ia lebih cepat dari pikirku. Ia bercerita kalau ada dokter baru di klinik tempatnya bekerja. Namanya Yulia, dan katanya ia begitu judes. Aku sungguh terheran-heran, bahkan setelah aku mengantar Lucky pulang masih terpikirkan akan hal itu.
            Suatu saat aku menjemput Lucky, aku menantinya di kursi antrian. Seseorang menepuk pundakku dari belakang dan ia menanyaiku.
            “Arif bagaimana kabarmu?” Aku kaget, siapakah ia, dan setelah aku melihatnya ternyata Yulia.
            “Baik.”
            “Maafkan aku ya, saat ayahmu pergi aku tak bisa ke tempatmu.” Mengapa ia tahu akan hal itu pula, padahal aku tak pernah memberi tahunya.
            “Tak apa Yul,” ucapku tanpa bertanya kembali kepadanya aku juga tak kembali merespon untuk bertanya balik padanya.
            Dia bertanya mengapa aku datang di klinik budenya. Dengan malu-malu aku menjawab kalau aku menjemput Lucky. Sekian lama aku menunggu, ternyata Lucky sudah pulang bersama temannya kata Yulia.
            Semenjak kejadian itu mengapa Lucky sulit kuhubungi. Bhakan ia jarang menemuiku. Aku mengira kalau Lucky marah seperti biasanya. Kalau sudah capek dengan marahnya, ia akan datang sendiri. Tapi sudah sekian lama ia tak kunjung datang ke rumahku. Sore itu aku mencarinya untuk sekedar bertemu dan minta maaf atas keterlambatan waktu itu.
            Aku terus menghubunginya, tapi tak kunjung juga aku menemukannya. Setiap aku datang ke klinik, ia sudah tak ada. Kata temannya ia sudah pulang. Aku juga mencari ke rumahnya, kata orang tuanya belum pulang bahkan aku melakukan hal itu berulang-ulang.
            Pagi itu aku masih tertidur diantara serakan tulisan yang baru kuselesaikan tadi malam. Terdengat suara ketukan pintu, yang langsung membangunkanku. Aku berpikir itu pasti Lucky, tapi setelah kubuka, ternyata Yulia.
            “Pagi Rif.”
            “Pagi juga Yul.” Ucapku dengan semua rasa lelah yang membebaniku.
            “O.... ya..... Ibu dimana?”
            “Ibu sudah pergi Yul.” Seketika aku melihat sedih di balik matanya. Air matanya berjatuhan. Dulu Yulia begitu dekat dengan ibu, bahkan Ibu menganggapnya sebagai putinya sendiri. Kehadiran Yulia begitu membahagiakan hati ibu. Sebab ibu ingin sekali memiliki anak perempuan. Sementara dari ketiga anaknya laki semua, termasuk aku. Yuliapun begitu merasakan kasih sayang dari ibu. Sebab ia tak pernah melihat seperti apa ibunya. Ibunya meninggal saat ia dilahirkan.
            Aku kaget mengapa pagi-pagi begini ia datang ke rumahku, aku menyapanya dengan segudang pertanyaan, sama seperti masa lalu. Latiku berdebar setelah ia berkata bahwa ia akan menjawab pertanyaan yang kuucap bertahun-tahun lalu. Pertanyaan yang pernah kuucap saat kita masih memakai seragam abu-abu. Ia bilang setuju akan hal itu dan mengajakku untuk kembali seperti dulu.
            Aku hanya tersipu malu, dan berpikir, mengapa seorang gadis yang begitu cantik dan dokter pula mau menjalin hubungan denganku yang hanya seorang kuli tinta. Belum tentu aku bisa membuat hidupnya bahagia.
            Aku mencoba menjelaskan, bahwa tak mungkin aku meninggalkan Lucky begitu saja. Dengan senyuman khasnya ia berkata, “Untuk apa kau tunggui dia dan setia pua padanya?” ia juga bilang, “Mungkin saat ini ia sedang bercumbu rayu dengan dr. Iwan saudara sepupuku.” Cerita Yulia benar-benar membuat kecewa hatiku, tak semestinya ia berucap seperti itu.
            Ia terdiam, sepertinya kecewa padaku. Aku berkata-kata kasar padanya. Ia kusuruh pergi dengan cara yang tak selayaknya sebagai seorang sahabat.
            Hari demi hari, malam demi malam, bahkan berbulan-bulan, aku mencoba membuktikan kata-kata Yulia. Aku begitu bersalah padanya, bahwa apa yang diucapnya semua benar. Lucky telah berpaling pada lelaki lain yang bisa menghidupinya dengan segala kemewahan.
            Diantara senja yang menganga, yang akan pulang untuk menggauli istrinya. Aku berjalan menuju rumah Yulia, aku bermaksud minta maaf padanya. Tapi sesampai di depan pintu rumahnya, aku melihat papan yang tergantung. Di papan itu hanya tertulis sebuah kata “DIJUAL”. Aku terus dan terus mencari Yulia. Aku hanya mendatangi tempat kerjanya tapi juga tak kutemukan. Bahkan aku telah mencarinya ke dasar lautan, tapi tak kunjung kutemukan. Mungkin ia membenciku, sampai-sampai ia tak mau menemuiku. Aku juga sadar kalau aku memang layak untuk dibencinya.
            Inilah kekalahan dari semua kekalahan. Kehilangan seorang sahabat yang memberiku semangat untuk menapaki kehidupan. Dan bila jua kau tak kutemukan, biarlah aku terbang bersama kunang-kunang untuk sekedar menjilati manisnya malam.

Kamis, 12 Mei 2011

PUISI

KELUH UNTUK PAPA

Papa,,,
aku selalu teraniaya sepi
jatuh di jurang tungku api.
membara..........
srigala-srigala telah berkaca
menunjuk sana atau sana
bahakan ia telah membeli penjara
dan berkata;

"tempat ini untuk orang-orang yang setia"
keluh ini harusnya kau dengar papa
tapi engkau keburu pergi
tak ada jalan untukku berlari
bahkan nasihat yang pernah kau beri
kini menjadi duri

papa,,,
tak perlu kau sesali
sebab aku telah menjalankan semua yang kau beri
dan bila aku mati
inilah cerita lucu negeri ini






SAJAK DARI AYAH

I

Anakku,,,,
bila malam ini tubuhmu
hanya terbaring beralaskan papan kayu
terimalah..........

anakku,,,
bukankah tidur di atas papan kayu
lebih baik,
dari tempat tidur berhiaskan manik-manik
berbau busuk.



II

anakku,,,
di pekarangan rumah tak tumbuh tanaman,
yang mahal
ketika orang-orang sibuk dengan gelombang cinta
kita hanya terdiammengurai arti cinta
sungguh tak terkira,
mata musang itu selalu mengintip cumbu kasih,
diantara kita
kerling kanan,,,,
kerling kiri...............
di matanya,kita adalah johar
yang selalu berpijar.



Selasa, 11 Januari 2011





pergilah sinta

di jurang-jurang ini aku masih menantimu
bahkan setiap gemerincing kereta kencana
selalu kucumbui dengan mata
sinta,,,
dalam mimpi kau permaisuriku
setengah nyawaku kutitipka padamu
tapi,,
kau pergi begitu saja
tanpa ucap salam atau kata
sebenarnya kau dan rahwana
tak perlu mengecohku, untuk berburu kijang kencana
pergilah sinta,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
biarlah aku disini
menanti sinta - sinta yang lain











Senin, 10 Januari 2011




PUISI CINTA

Ku tulis semua di atas kertas putih yang bersih
seputihnya hati menggores syair-syair
yang telah lama tersimpan di kalbu
tak selamanya aku sanggup bertahan
gelora jiwa yang meronta menuntut ak bicara
walau hanya ku tulis di atas Puisi Cinta
maafkan perasaanku bila kau baca puisi ini
seluruh jiwa seluruh ragaku yang tlah hilang
pada cinta dan kasihmu seorang
ku berharap engkau sudi menerima diriku
apa adanya beginilah adanya
karena di mata tuhan kita semua sama


Rabu, 13 Oktober 2010

belajar sastra

MUMET!!!!!!!!!!!Untuk belajar tentang sastra.
Nie....ku beri contoh yang mudah diperhatikan ya.....!tapi,jika ada yang salah mohon bantuannya yak ucapin aja BIMSALABIM ADAGADABRA.
Untuk belajar sastra kita selalu dibuat bingung dengan teori-teoriyang cukup menyulitkan,namun dengan menerapkan teori itu memang bagus.Tapi,menurutku sebaiknya teori-teori itu hanya dijadikan sebagai dan sebagai semangat saja untuk membuat karya kita sendiri.

Terbitkan Entri